A BEAUTIFUL MIND

A bunch of thoughts, ideas, and perspectives


Leave a comment

Sikat Bleh..!

Kemarin sore, sebelum pulang kantor, ada tiga e-mail sempat didownload oleh Outlook Express di laptop saya. Ada satu e-mail yang menarik perhatian saya untuk menyempatkan membacanya, dari rekan kerja, yang menuliskan sebuah argumentasi singkat, tapi menarik. Isinya kurang lebih mengajak top management, pengambil kebijakan, untuk bisa lebih focus memikirkan strategi bisnis perusahaan, dimana saya yakin, ini merupakan kegelisahan lama ia, yang seringkali dibuktikan, dimana ketika ada kesempatan untuk ngobrol, perjalanan topik kami pasti akan mendiskusikannya, paling engga, “nyerempet-nyerempet” dikit lah…

Menurutnya, sebuah perusahaan, ketika ingin bergerak maju dan gesit, harus dapat mengurangi sebisa mungkin, energi-energi yang tidak perlu dikeluarkan. Lebih spesifik lagi, tertuju ke perusahaan kami yang akan diarahkan menjadi suatu entitas usaha bernama holding, harusnya memiliki tujuan yang definitive, dan perusahaan-perusahaan yang bernaung di dalamnya, masing-masing harus fokus menuju tujuan atau goal tersebut.

Memang diakui, berbagai macam kesempatan ekspansi usaha yang lewat di depan mata, akan sangat menggoda, dan setiap kesempatan yang lewat, akan selalu berbisik…”aku tidak datang padamu dua kali..so..sikat bleh ! ”.

Tapi apakah setiap kesempatan usaha akan selalu ditangkap ? Kalau jawabannya ; tidak selalu, maka apa yang akan menjadi landasan yang jadi parameter yang menentukan ? apakah hanya sekedar nominal keuntungan yang terproyeksikan ? Atau point pembelajaran juga diikutkan ? Kelihatannya akan banyak opini berkembang dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Saya pernah mendapati itu menjadi pembahasan yang menarik di salah satu milis pengusaha yang saya ikuti. Maksud saya dengan kata menarik adalah dilihat dari cukup banyaknya respon yang menanggapi. Dan seperti mudah diduga, banyak perspektif berbeda tentang memaknai “fokus” dalam berusaha.

Walaupun seingat saya, thread topic itu tidak mendatangkan kesimpulan apa-apa, tapi ada beberapa hal yang saya dapat ambil dari diskusi virtual itu, dimana selain berhitung secara cermat, ada beberapa hal lain yang harus diperhatikan ketika ingin melakukan ekspansi usaha :

  1. Strategi

Bisa jadi, berusaha untuk mendiversifikasi produk, mengekspansi ragam jasa dan produk, adalah bentuk dari perluasan jaringan, yang artinya, walaupun terkesan sporadis ketika kita menjual range produk dan jasa yang terlalu besar, tapi ketika itu dibingkai dalam satu kemasan bernama strategi, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena satu-satunya yang perlu dikhawatirkan adalah menjawab pertanyaan, apa yang kita lakukan adalah benar-benar bagian dari strategi ?

2. Keberadaan Tim Pendukung yang Solid dan Kompeten

Ketika memutuskan untuk melakukan diversifikasi produk dan layanan, yang jelas berada di depan mata, adalah tuntutan-tuntutan untuk men-deliver produk dan layanan itu dengan baik bahkan excellent, which is berarti, penguasaan produk bukan satu kewajiban, tapi kebutuhan. Demikian juga pengenalan medan pasar, pengaturan strategi financial untuk pendukung kelancaran operasi usaha, penguatan kompetensi sumber daya manusia, dan masih banyak lagi aspek lain yang harus diperhatikan dan jelas, butuh energi pemercepatan, karena makna “sukses” dalam kamus menjalankan usaha, sangat sering melibatkan kecepatan merespon sesuatu sebagai parameter yang menentukan. Dan yang jelas, agenda tersebut, saya yakin betul, tidak dapat dilakukan sendirian, tidak bahkan oleh pemilik perusahaan, walaupun misalnya, dia adalah pemegang tunggal saham kepemilikan.

So, let’s start to make a team..!

3. Kesiapan Menghadapi dan Mengelola Perubahan

Akhirnya kita harus menghadapi kenyataan bahwa benar sebuah adagium yang berisi “change is the only constant”, tidak ada hal yang berubah, selain perubahan itu sendiri.

Beberapa tahun lalu, mungkin Larry Page dan Sergey Brin hanya dua orang mahasiswa paska sarjana, tapi sekarang, dengan kemasyhuran Google, mereka adalah bagian dari sejarah dunia.

Bahkan mengelola perubahan, telah menjadi bagian keilmuan dari ilmu manajemen, Change Management, karena diyakini, ketika perubahan tidak dapat dikelola menjadi suatu hal yang dapat ditunggangi untuk dapat meraih goal, maka efek yang timbul adalah sebaliknya.

4. Totalitas

Semalam, saya mendapatkan sesuatu pengetahuan baru, dimana dalam sebuah program acara di Discovery Channel, menampilkan tentang bagaimana sebuah kawat tembaga diproduksi. Hal baru yang saya maksud sebenarnya tidak tertuju ke isi acara tersebut, tapi adalah ketika istri saya bercerita tentang aktivitas PT. Smelting di gresik, dimana mereka melakukan proses refinery tembaga. Dijelaskan bahwa Smelting dalam melakukan proses refinery, menggunakan satu proses dimana patent atas proses tersebut, dimiliki oleh Mitsubishi. Di dunia metalurgi, proses tersebut dikenal dengan nama “Mitsubishi Process”.

Sedikit mengingatkan, mungkin anda lebih mengarahkan kata Mitsubishi ke merk kendaraan, tapi sebenarnya, aktivitas mereka diawali dengan mendirikan pabrik pesawat dan kemudian kapal laut.

Hal yang jauh lebih menarik lagi adalah, sisa pemurnian dari hasil Mitsubishi process tersebut, menjadi milik perusahaan mitsubishi, dimana sisa pemurnian dari tembaga, berupa Emas.

Apa yang didapat ketika Mitsubishi menggunakan prinsip totalitas dalam setiap aktivitas bisnisnya ?

Di acara tersebut, disebutkan bahwa, tembaga yang masuk ke proses pemurnian, sebenarnya paling tidak memiliki kadar 99,99%, kapasitas PT. Smelting per tahun adalah 250 ribu ton tembaga, dimana, 0,01 %-nya, atau berarti dalam setahun, penerimaan dari ”sampah” proses pemurnian tembaga, adalah berupa 25 ton emas/tahun !

Gambaran cerita Mitsubishi tersebut seharusnya memberikan kita pesan yang sangat kuat, bahwa seluas apapun range product yang kita ingin libatkan dalam agenda ekspansi usaha kita, jelas butuh totalitas. Totalitas dalam belajar hal baru, totalitas untuk bekerja, totalitas untuk berinovasi, totalitas dalam membuat perencanaan, dll. Dan jelas, Mitsubishi tidak setengah-setengah ketika memutuskan untuk melakukan ekspansi usahanya.

“Bekerjalah untuk duniamu seakan – akan kamu hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan – akan kamu mati esok”. (Hadits Riwayat Turmudzi)

Wallahu A’lam


Leave a comment

My Most Favorite Blog

Minggu ini niatan kembali menjadi blogger mulai direalisasikan, diawali dengan kembali berkunjung ke blog-blog favorit.

Walaupun memang belum banyak berpetualang di dunia blog, tp dari beberapa blog favorit, blog mas Fauzi dan milik dosen saya, Pak Ral, yang paling saya suka. Walaupun sama-sama masuk kategori “most favorite”, tp jangan dikira dua blog tersebut punya banyak kesamaan. Well, yang jelas, mereka berdua, saya nilai punya satu hal yang relatif sama; menggunakan bahasa-bahasa yang EKSPRESIF, atau dengan kata lain (masih penilaian saya lho..), tulisan mereka berdua tuh hidup, jadi kalau membaca blog mereka, layaknya lagi ngobrol sama orang yang penuh bahan obrolan, inspiring, dan ngasih banyak ilmu-ilmu tambahan.

Bedanya, karakter mas Fauzi lebih terstruktur dalam content blog dan kategori penulisan..(eh..maaf nih Pak Ral, jangan anggap ini penghinaan utk tulisan Bapak yah..). Terus, beliau tuh sering banget ngutip sesuatu dari buku, tapi gaya penyampaiannya itu simple, alias mudah dicerna, dan bikin perasaan tuh bener-bener bersyukur..dapet banyak ilmu, tanpa harus baca apalagi beli buku…: )

Kalau sang “blogger tua”, begitu Pak Ral sering menyebut dirinya, bener-bener memfungsikan blog jadi wadah penuang ide-ide, gagasan, curhat, perasaan, pokoke campur aduk…dan itu menjadikan saya yang membaca blog Pak Ral, menjadi lebih dekat, dan akhirnya, nggak jarang banyak inspirasi yang muncul setelah baca blog beliau.

Well, saya mengapresiasi blog sebagai penemuan hebat abad ini, bener-bener sudah membuka pagar-pagar publisitas dan pencurahan ide, gagasan, wacana, perspektif atau sejenisnya. Memang pada akhirnya akan ada, atau bahkan sudah ada, kekhawatiran tentang kemungkinan eksistensi blog, bila digunakan untuk sesuatu hal yang menentang nilai-nilai kebaikan yang telah eksis di masyarakat, dan cenderung sulit untuk dipertanggung jawabkan, akan mengancam norma dan sendi-sendi kehidupan, tapi bukankah bisa diambil sudut pandang sebaliknya, bahwa dengan blog, tidak ada satu bentuk media yang mendominasi, tapi di atas semua itu, blog memang telah membawa satu kebiasaan baru, yang salah satu “konsekuensi” lain yang mungkin timbul adalah memberikan nuansa baru untuk mencerdaskan masyarakat.

Bagi beberapa orang yang pernah melakukan trip ke luar negeri, utamanya ke negara-negara maju, pasti tidak menolak, bahwa pengalaman tersebut, benar-benar membawa wawasan baru. Tapi nuansa tersebut, juga dapat digantikan dengan membaca blog, dimana yang jelas, it is very affordable cost.

Paling engga kan bisa numpang internetan di kantor…hehe…


Leave a comment

IRRASSHAIMASE..!!!

Setelah kusadari, ternyata baru 2 bulan aku berada di Fukuoka, sebuah kota yang cukup besar di kepulauan Kyushu di Jepang. Ya, baru 2 bulan, tapi rasanya sudah cukup bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang penyebab majunya Jepang yang selama ini memakan kapasitas otakku, disimpan dengan rapi, walaupun kadang ingin segera saja kuhapus karena sempat kukira tak kan terlalu penting mendapatkan jawabannya. Mengapa mereka bisa maju? Mengapa mereka bisa menang? Apa sih kurangnya negara kita, atau bahkan sampai pada pertanyaan ” Dimana keadilan Tuhan sebenarnya? Astaghfirullah….pertanyaan-pertanyaan yang bisa menjerumuskan pada kefasikan.

Hari ini aku akan menghadap associate professor, eh, lebih tepatnya calon deh, soalnya kan belum resmi masuk jadi kenkyusei. Ya, walaupun kemarin, profesor dan associate-nya sudah menerimaku menjadi peneliti di laboratoriumnya, katanya prosedur untuk penerimaan komunitas baru di lab. harus dibawa lagi ke rapat departemen. Manut ae…lah…

Setelah mencek barang bawaan untuk dibawa, dokumen-dokumen yang diminta sensei kemarin, siap-siap mandi. Wuihh..belum berani..pake air biasa, karena sudah menjelang fuyu, angin-nya mulai terasa dingin. Daripada bersin-bersin di depan sang associate, mendingan pake air panas, wah…nang rene ki, ra sah nggodok banyu nggo adus.., kare’ mencet.

Eh, waktu masih sejam nih, udah mandi, masak yang mudah aja lah, soseji goreng, he..he..Kayaknya masih bisa nelpon Bapak, ngucapain selamat ulang tahun, abis, semalam ga nyambung-nyambung, mulai frustasi pake kartu telpon internasional yang murah. Tapi juga masih mikir untuk hijrah ke “kartu mendingan”.

Tuuutt……tuuuutt…….tuuut….halo…, Alhamdulillah nyambung…”Pak, Assalamu`alaikum. Selamat ulang tahun yah…!” Langsung aja nyerocos, udah kangen juga..sih..”Halo..Halo…!!”, weh lah dalah…masih ga kedengeran juga di seberang, terpaksa keluar ruangan, “Halo..oh..ya sudah mas, kedengeran-kedengeran…!” ahh syukurlah bisa melanjutkan obrolan kerinduan dengan keluarga di Solo, walaupun ternyata ibu sedang ada di Jakarta, sedang kontrol kesehatannya. Ato de haha ni denwa suru.

Bersepeda ke tempat tujuan, hal yang biasa dilakukan orang Jepang, setidaknya penduduk Fukuoka yang ku tau, ga terkecuali, bapak-bapak ber-jas, yang di negara kita justru supaya tidak hilang gelar eksmudnya, mikir beberapa kali untuk naik kendaraan umum, angkot, apalagi sepeda pancal, gengsi lah…Kalau disini mah, ga ada gengsi yang ada, genki

Sampai jam 10 kurang 10, teringat janji ketemu beliau jam 10 tepat, dan teringat lagi pengalaman sebelumnya, ketemu Professor, harus sesuai janji waktu, tidak lebih, tidak kurang. Ya sudah, terpaksa menyusuri jalan kampus, menunggu beberapa menit lagi, biar sampai ke ruangan beliau, ju-ji asa chodo desu.

 

“Good morning sir…!“, masih menggunakan bahasa Inggris, ntar ajah, begitu dah masuk kelas nihongo, baru praktekin dikit-dikit. Wah, kayaknya sudah dari tadi nih orang, kayaknya masih pagi banget deh, orang kampus aja masih sepi, tapi ini si sensei, sudah nongkrong di depan komputernya.

 

Setelah mengeluarkan bahan-bahan yang diminta, berikut bumbu-bumbu ngobrol antar dua insan yang saling terbatas bahasa Inggrisnya, terutama pronounciation-nya. Beliau menjanjikan akan memberitahukan keputusan pertemuan departemen, besok, “In tomorrow, evening..!”, katanya begitu. Ramah sekali…subhanallah.

 

Orang-orang disini memang luar biasa ramahnya, lebih nJawani mungkin. Setiap momen tuh ada aisatsu-nya, alias salam tertentu berdasarkan kondisi tertentu.

 

Jadi ingat cerita mbak Fitri, kakak asuhku disini, kalau pergi ke Suupa bertepatan dengan waktu mereka baru buka, maka akan disambut dengan pegawai-pegawai mereka yang bediri berjejer di awal pintu masuk, sambil nunduk bareng meneriakkan, IRRASHAIMASE..!!! Ya…teriak….Sampai ga jarang juga kaget sewaktu belanja sayur atau barang kebutuhan harian lain, karena sudah biasa kata itu diucapkan lantang oleh si pegawai penjaga toko, semangat banget, walaupun orangnya dah tua, lebih tua dari Bapakku yang baru saja pensiun. Di sore menjelang malam-pun, suasana di toko itu masih sama, ojii san yang tadi pagi telah membuatku sport jantung, kembali mengagetkanku…seharusnya waktu menjelang pulang gini adalah waktu dimana sang pak tua berada dalam kondisi capek. Tapi rasa kagetku segera berubah menjadi perasaan kagum dan malu ngeliat raut muka senyum penuh semangat si bapak tua.

Aku biasa belanja sayur di suupa yang ada di belakang rumahku di Tanotsu, soalnya yang paling deket dari rumah ya itu aja, terus juga harganya ga terlalu mahal, sering juga nyari ikan di situ, bukan mancing maksudnya, tapi beli ikan untuk lauk. Ikan di Jepang ini berlimpah, Iro-iro sakana ga arimasu yo…Biasa pergi kesini sama temen kosku, si Amril, soalnya kan bisa nebeng pake mobil, he..he. Tapi suka juga belanja sendiri nggoes sepeda. Terutama kalau persediaan di kulkas sudah menipis. Pergi kemana-mana di sini, emang ga ada kekhawatiran lah.

 

Seperti orang-orang yang kerja di suupa. Orang-orang di jalan juga ga kalah ramahnya. Wah, ga perlu jidad mengkerut lah, kalau nyetir di sini. Ngasih jalan ke orang lain, atau bahkan menunduk dari dalam mobil sebagai tanda salam, hormat, terima kasih atau minta maaf, apabila melakukan hal yang dianggap menjadi suatu kesalahan, misalnya mengambil lajur yang salah. Suatu pemandangan yang aneh menurutku, karena kita sudah terbiasa dengan gaharnya supir angkot di bekasi, atau raksasa-raksasa bis di dekat terminal senen. Sering ketawa cekikikan aku ngeliat situasi jalan di sini, sampe Amril sering nanya, “Kenapa Dis?”.

 

Ramah, senyuman, sapaan. Ah..bukankah kita sudah mengenalnya dari lahir. Tangisan kita, dibalas dengan senyuman, tertawa, dan isak haru. Keramahan sudah menyapa kita sejak pertama masuk dalam alam dunia ini. Tidak hanya orang tua, kakek, nenek, ncang, ncing, bahkan tetangga sebelah rumah pun sudah mengenalkan arti sebuah senyuman.

 

Senyum di dalam Islam telah diangkat bukan hanya menjadi penghias muka, dan bentuk visualiasi dari emosi. Islam telah menganggapnya menjadi sebuah amalan kebaikan. Sebuah pemaknaan yang indah telah diberikan oleh Islam, agama kedamaian. Senyuman, salam, perkataan yang baik, etika berbicara yang baik kepada orang tua, dapat ditemui dalam Islam sebagai suatu hal yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

 

Sabda Rasulullah SAW: “Lindung diri kalian dari api neraka, bahkan dengan mensedekahkan setengah dari kurma, dan orang yang bahkan tidak dapat melakukan itu, setidaknya berbicara secara sopan santun,” seperti diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

 

Luar biasa kekuatan keramahan. Berkali-kali, keramahan telah mengantarkan orang-orang di lingkungan Rasulullah SAW, untuk bersedia bersaksi bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang patut Disembah, dan Muhammad adalah satu-satunya Nabi utusannya yang terakhir, membawa kabar baik bagi seluruh umat dunia.

 

Bukan suatu rekayasa sejarah, bahwa Umar bin Khatab, seorang pemuda diantara usia tiga puluh dan tiga puluh lima, bertubuh besar, yang maksudnya lebih besar dari tubuh besar rata-rata orang timur tengah apalagi disbanding dengan postur orang asia, gampang naik pitam, dan suka minum-minuman keras, dapat tertunduk malu dihadapan lantunan ayat suci Al-Qur`an yang mulia, bahkan beliau juga dikenal sebagai sahabat yang memiliki telaga air mata karena seringnya beliau menangis. Kecintaannya terhadap sesama manusia, kelembutan hati dan keramahannya terhadap rakyat yang dipimpinnya, dan bahkan kemanjaan Umar terhadap istrinya, adalah manifestasi hakiki, dari ketundukan Umar terhadap Pencipta, Allah Azza Wa Jalla.

 

Senyum, ramah, salam, adalah juga bentuk kecintaan kita terhadap sesama. Bapak tua di suupa yang saya ceritakan tadi, dapat diyakini, beliau pun mengucapkan salam kepada pembeli bukan karena hal itu bagian dari job desc mereka, atau karena dilihat atasan mereka, bahkan si pak tua saya yakin bukan pemilik toko. Tapi karena mereka sadar, arti keramahan, kekuatan senyuman yang tulus, akan melekat pada diri calon-calon pembeli. Les Giblin pernah mengatakan, bahwa pada dasarnya, manusia itu tidak hanya lapar secara fisik, lapar yang membutuhkan makanan untuk menghilangkannya. Tapi manusia itu mempunyai kelaparan secara mental, lapar bila tidak dihargai, sekalipun hanya sapaan, dan lapar bila tidak didengar, sekalipun hanya jawaban salam.

 

Jangan segan menjadikan diri kita orang yang ramah, silahkan mengobral senyuman, sebarkan salam, dan rasakan manfaatnya.

 

Wallahu A`lam bish Shawab.

irrashaimase : selamat datang
kenkyusei : mahasiswa peneliti
Manut ae…lah… : ikut saja deh…
sensei : guru/dosen/profesor, bahkan dokter juga dipanggil dengan sebutan sensei
wah…nang rene ki, ra sah nggodok banyu nggo adus.., kare’ mencet : “wah disini ini, ga perlu masak air untuk mandi..tinggal mencet”
soseji : sosis
sepeda pancal : sepeda
genki : sehat
ju-ji asa chodo desu : tepat jam 10
nihongo : bahasa Jepang
pronounciation : pengucapan
Suupa : supermarket
ojii san : kakek
Tanotsu : nama sebuah wilayah setingkat kecamatan di Jepang
Iro-iro sakana ga arimasu yo… : “macam-makan ikan ada disini lho”
job desc : sing.Job Description, deskripsi/tanggung jawab pekerjaan


4 Comments

Arigatou Gozaimasu, Matur Nuwun, Thank You

 thank-you-allah-book.jpg

Sejuknya pagi membawa perasaanku membuncah..

Ingin rasanya hanya ucapan-ucapan terima kasih yang keluar dari mulut ini..

Terima kasih untuk Sang Pemberi Kehidupan..

Terima kasih untuk bunda sang pengajar sejati tentang makna kasih sayang

Terima kasih untuk zahra…seorang teman sejati yang tulus memberikan bongkahan cinta..

Terima kasih…dua kata sarat energi pembangun jiwa..

“Jazakallah my brother”….demikian yang kuingat….ucapan dari seorang Bangladeshi untukku setelah aku memberikan sebuah khutbah sederhana di suatu kesempatan Shalat Jum’at di Jepang…singkat, tapi sekali lagi…sangat menyentuh qalbu….

Perhatikan orang yang sering mengucap terima kasih…maka dapat dipastikan hidupnya adalah penuh dengan kebahagiaan dan rasa syukur….

ya..rasa syukur…ternyata bukan diukur dengan banyaknya materi….perhiasan, kendaraan, atau rumah mewah…karena seringkali, nikmat dirasakan sebagai sesuatu yang relatif….

maka ber”Terima Kasih” seharusnya menjadi kebutuhan kita….makanan qalbu…agar tetap merasa “kenyang”

coba kita ingat…seberapa sering kita ber”Terima Kasih” dalam sehari..?


Leave a comment

Let me Tell you Our Fear…….

 supernova.jpg

“Our deepest fear is not that we are inadequate.

Our deepest fear is that we are powerful beyond measure.

It is our light, not our darkness, that most frightens us.

Your playing small does not serve the world.

There is nothing enlightened about shrinking so that other people won’t feel insecure around you.

We are all meant to shine as children do.

It’s not just in some of us; it is in everyone.

And as we let our own lights shine, we unconsciously give other people permission to do the same.

As we are liberated from our own fear, our presence automatically liberates others.”

(Timo Cruz in Coach Carter Movie) 


Leave a comment

cinta…hanya pada Allah saja….

“Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, ialah Dia (yang) menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung merasa tenteram kepadanya, dan Dian menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kamu yang berpikir.” (Ar-Ruum:21)

Ayat yang dapat kita identifikasi sebagai perkataan Allah terhadap fenomena rasa cinta yang muncul dalam diri sepasang insan ciptaanNya. Cinta yang bukan cinta monyet apalagi dihiasi istilah “gombal”, tapi cinta sejati karena selalu disandarkan bahwa rasa kasih sayang dan ketenteraman yang ditimbulkannya adalah anugerah dariNya.

Baginda tercinta Rasulullah sendiri dapat kita saksikan sebagai seseorang yang penuh cinta terhadap sesama. Beliau bukan menempatkan cinta sebagai perasaan yang terpisah dengan cinta terhadap Sang Rahman, tapi justru menimbulkan dari dirinya cinta yang semakin mendekatkan diri padaNya. Maka, tak salah, ketika ia memanggil Aisyah R.A dengan sebutan Humaira, maka hal tersebut tidak menjauhkan dirinya dari optimal dalam berdakwah. Panggilan sayangnya seakan alat pengisi kembali ruhiahnya yang dipenuhi dengan kelelahan menghadapi Quraisy yang angkuh. Pandangan mesranya menjadi sarana me-recharge semangat berdakwah.

Cinta, menjadi fenomena yang disadari Allah sebagai bagian dari kehidupan salah satu ciptaanNya bernama manusia. Dan secara sempurna, Allah telah mengatur bagaimana manusia menempatkan cinta kepada pasangan dari jenis manusia sendiri. Sistem sempurna tersebut bernama pernikahan. Sebuah institusi yang akrab disebut sebagai mitsaqan ghaliza, ikatan yang kokoh. Kokoh, karena hanya Allah yang berada di belakang niatnya. Bahkan dalam film-film di televisi, kita sering menyaksikan dalam kehidupan orang-orang barat, ketika melangsungkan pernikahan, mereka menyaksikan pendeta yang memberkati pernikahan mereka berkata, “Ikatan ini, adalah dipertemukan oleh Tuhan, maka tidak akan dapat dicerai-beraikan oleh manusia”, sebuah kesadaran bahwa lembaga pernikahan adalah sebuah lembaga Illahiah. Di Amerika, terjadi sebuah fenomena yang ditulis oleh Hoffman dalam Developmental Psychology Today, yaitu bahwa kini, banyak pasangan muda yang menemukan kebahagiaan mereka dalam perkawinan karena suatu hal, komitmen, yaitu komitmen religius, suatu hal yang justru dijauhi banyak pasangan dengan gaya “pacaran” mereka. Dan pada tahun 1982, sebagian gereja di Amerika mempopulerkan pernikahan dini, tidak tanggung-tanggung, pasangan yang telah menginjak 18 tahun didorong untuk segera menikah.

Namun dapat juga menjadi kesadaran sesaat, karena tidak jarang juga kita dengar, perceraian menjadi hal yang mudah diputuskan, anehnya justru setelah lama berpikir dan sebelum menikah memaksakan kepada Sang Pemberi Keputusan, “Ini jodohku..Tuhan, ini jodohku!!”

Sistematis, sekaligus indah, tahapan yang harus dilalui seorang muslim untuk menemukan pasangan dari jenisnya sendiri. Didahului dengan Istikharah, sebuah komunikasi Hotline ke Allah yang menggambarkan kepasrahan seseorang terhadap keputusanNya, lihat saja bagaimana isi do’anya, “Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Tahu sedangkan aku tidak, Engkaulah Yang Maha Berkuasa, sedangkan aku makhluk yang lemah, jika memang, fulana binti fulan baik untukku, keluargaku, dan agamaku, maka takdirkanlah ia untukku, mudahkanlah aku dekat padanya, dan berkahilah ia. Dan jika ia tidak baik untukku, keluargaku, dan agamaku, jauhkanlah ia dariku, dan jauhkanlah aku darinya, dan sesungguhnya Engkau Yang Maha Mengetahui apa-apa yang terbaik untukku.”

Kepasrahan berulang kali dibedakan dengan menyerah dan tidak melakukan apa-apa. Kepasrahan adalah sikap terbaik manusia untuk menemukan Qadr-nya, yang jelas ia tidak akan mengetahuinya. Simaklah perkataan Tom Cruise, sang samurai terakhir ketika ditanya apakah manusia dapat merubah takdirnya, “Manusia diberikan akal untuk berusaha mengungkapkan takdirnya.”

Jika ingin mendapatkan wanita sholehah, maka jadilah lelaki sholeh, dan sebaliknya, bukankah Qur’an sendiri yang mengatakan, “Wanita-wanita sholehah adalah hanya untuk lelaki sholeh”.

Maka beruntunglah lelaki yang bernama sholeh..he..he..


1 Comment

beberapa bytes surat dari Pak dekan

jangan khawatir…isi suratnya bukan pemecatan saya dari bangku kuliah kok…lha wong sudah purnamahasiswa alias alumni..

surat (baca : e-mail) ini sebenernya sempat luput dari pengamatan saya…berhubung kemarin sama sekali ga ngececk e-mail ditambah gara2 ngikut milis bejibun sampe surat penting kayak gini ga keliatan…untungnya ngeliat blog prof.Ral, n disitulah saya nemukan pak dekan ternyata sudah memposting sesuatu untuk blog-nya…

*****

yudis makkkkaaashiii…banget..
saya besok baru dilantik, Insya Allah besok malam saya akan mulai
ngirim ngirim utk ditempelin ke blog-nya
dis nama blognya jangan Deansugi..ah…gimana gitu
ada kesan arogan….ganti Bang Sugi aja deh…terlanjur
udah terkenal itu nama seeeh

wass.wr.wb

bangsugi

*****

Yup..singkat..tp jelas…

Prof. Bambang Sugi ini salah satu dosen saya waktu di padepokan “wong yellow jacket” dulu…walaupun sebenernya ga pernah diajarkan langsung oleh beliau, tapi udah banyak deh testimony OK tentang cara ngajar beliau…ditambah kekhasan beliau ketika berinteraksi dengan siswa ajarnya…wah gaul gitu loh…

singkat cerita Pak Bambang Sugi (skg lebih dikenal dengan Prof. Bangsugi) terpilih jadi dekan….dan seketika itu juga saya usulin..

“Buat Blog dong…biar kebijakan2nya lebih komunikatif…n banyak yang bisa ngasih masukan langsung ke pak Dekan..”

ternyata usulannya direspon….n dengan sukacita…saya bantu pembuatan blog tersebut

*****

Hari ini saya baru baca surat dari Pak dekan….isinya ada 2, tentang sebuah tulisan yang ingin dipostingkan beliau ke Blognya, dan sebuah permintaan untuk mengganti nama blognya…

Begitu ngebaca surat itu…yang ada hanya haru dan kagum…

kutipan e-mail di atas secara eksplisit menggambarkan sosok beliau yang rendah hati dan menjaga agar dihindarkan dari sifat arogan..

postingan-nya pun tak lebih dari potongan e-mail….tapi isinya adalah dialog beliau dengan seorang ustadz….tentang bagaimana Islam memposisikan seorang pemimpin dan jajaran “menteri-menteri”nya…

Ya…semoga Allah terus melindungimu Prof…

*****

Cerita tentang surat dari pak dekan di atas sebenarnya adalah usaha untuk menyebarkan enegi positif untuk kepemimpinan publik di Indonesia yang kondisi kekiniannya makin ga punya bentuk.

Yang jelas, 6 presiden RI, representasi kepemimpinan publik paling besar di negeri ini, masing-masing membawa karakter sendiri-sendiri.

Berkaca pada sejarah bahwa ke-5 presiden lalu “lengser” dengan penuh nuansa ketidakpuasan dari rakyatnya, saya jadi ingat penjelasan Bapak Anhar Gonggong, sejarawan terkenal yang pernah memberikan kuliah umum di kampus saya dulu, bahwa sepanjang sejarah Indonesia, sejak belum mengenal yang namanya nusantara, raja-raja juga lengser dengan penuh intrik, baik dari rakyat, maupun lawan politiknya. Jangan-jangan, Indonesia memang benar-benar akan memerlukan waktu lama lagi untuk dapat menemukan bentuk kepemimpinan khas Indonesia, yang akan benar-benar membawa masyarakatnya ke bentuk kesejahteraan yang hakiki.

Membahas kepemimpinan publik bisa jadi adalah sebuah apatisme bagi tidak sedikit orang, tapi kenyataan lah yang berbicara, di mana kepemimpinan adalah poin penting, malah lebih lagi adalah faktor utama bagi sebuah negara untuk dapat mencapai wujud Baldatun Toyyibatun wa Rabbun Ghafur

Konon katanya akan ada Ratu Adil…????

Ah…ramalan….sepertinya juga hanya manifestasi kekecewaan…..