July 2008


Kemarin sore, sebelum pulang kantor, ada tiga e-mail sempat didownload oleh Outlook Express di laptop saya. Ada satu e-mail yang menarik perhatian saya untuk menyempatkan membacanya, dari rekan kerja, yang menuliskan sebuah argumentasi singkat, tapi menarik. Isinya kurang lebih mengajak top management, pengambil kebijakan, untuk bisa lebih focus memikirkan strategi bisnis perusahaan, dimana saya yakin, ini merupakan kegelisahan lama ia, yang seringkali dibuktikan, dimana ketika ada kesempatan untuk ngobrol, perjalanan topik kami pasti akan mendiskusikannya, paling engga, “nyerempet-nyerempet” dikit lah…

Menurutnya, sebuah perusahaan, ketika ingin bergerak maju dan gesit, harus dapat mengurangi sebisa mungkin, energi-energi yang tidak perlu dikeluarkan. Lebih spesifik lagi, tertuju ke perusahaan kami yang akan diarahkan menjadi suatu entitas usaha bernama holding, harusnya memiliki tujuan yang definitive, dan perusahaan-perusahaan yang bernaung di dalamnya, masing-masing harus fokus menuju tujuan atau goal tersebut.

Memang diakui, berbagai macam kesempatan ekspansi usaha yang lewat di depan mata, akan sangat menggoda, dan setiap kesempatan yang lewat, akan selalu berbisik…”aku tidak datang padamu dua kali..so..sikat bleh ! ”.

Tapi apakah setiap kesempatan usaha akan selalu ditangkap ? Kalau jawabannya ; tidak selalu, maka apa yang akan menjadi landasan yang jadi parameter yang menentukan ? apakah hanya sekedar nominal keuntungan yang terproyeksikan ? Atau point pembelajaran juga diikutkan ? Kelihatannya akan banyak opini berkembang dari pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Saya pernah mendapati itu menjadi pembahasan yang menarik di salah satu milis pengusaha yang saya ikuti. Maksud saya dengan kata menarik adalah dilihat dari cukup banyaknya respon yang menanggapi. Dan seperti mudah diduga, banyak perspektif berbeda tentang memaknai “fokus” dalam berusaha.

Walaupun seingat saya, thread topic itu tidak mendatangkan kesimpulan apa-apa, tapi ada beberapa hal yang saya dapat ambil dari diskusi virtual itu, dimana selain berhitung secara cermat, ada beberapa hal lain yang harus diperhatikan ketika ingin melakukan ekspansi usaha :

  1. Strategi

Bisa jadi, berusaha untuk mendiversifikasi produk, mengekspansi ragam jasa dan produk, adalah bentuk dari perluasan jaringan, yang artinya, walaupun terkesan sporadis ketika kita menjual range produk dan jasa yang terlalu besar, tapi ketika itu dibingkai dalam satu kemasan bernama strategi, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena satu-satunya yang perlu dikhawatirkan adalah menjawab pertanyaan, apa yang kita lakukan adalah benar-benar bagian dari strategi ?

2. Keberadaan Tim Pendukung yang Solid dan Kompeten

Ketika memutuskan untuk melakukan diversifikasi produk dan layanan, yang jelas berada di depan mata, adalah tuntutan-tuntutan untuk men-deliver produk dan layanan itu dengan baik bahkan excellent, which is berarti, penguasaan produk bukan satu kewajiban, tapi kebutuhan. Demikian juga pengenalan medan pasar, pengaturan strategi financial untuk pendukung kelancaran operasi usaha, penguatan kompetensi sumber daya manusia, dan masih banyak lagi aspek lain yang harus diperhatikan dan jelas, butuh energi pemercepatan, karena makna “sukses” dalam kamus menjalankan usaha, sangat sering melibatkan kecepatan merespon sesuatu sebagai parameter yang menentukan. Dan yang jelas, agenda tersebut, saya yakin betul, tidak dapat dilakukan sendirian, tidak bahkan oleh pemilik perusahaan, walaupun misalnya, dia adalah pemegang tunggal saham kepemilikan.

So, let’s start to make a team..!

3. Kesiapan Menghadapi dan Mengelola Perubahan

Akhirnya kita harus menghadapi kenyataan bahwa benar sebuah adagium yang berisi “change is the only constant”, tidak ada hal yang berubah, selain perubahan itu sendiri.

Beberapa tahun lalu, mungkin Larry Page dan Sergey Brin hanya dua orang mahasiswa paska sarjana, tapi sekarang, dengan kemasyhuran Google, mereka adalah bagian dari sejarah dunia.

Bahkan mengelola perubahan, telah menjadi bagian keilmuan dari ilmu manajemen, Change Management, karena diyakini, ketika perubahan tidak dapat dikelola menjadi suatu hal yang dapat ditunggangi untuk dapat meraih goal, maka efek yang timbul adalah sebaliknya.

4. Totalitas

Semalam, saya mendapatkan sesuatu pengetahuan baru, dimana dalam sebuah program acara di Discovery Channel, menampilkan tentang bagaimana sebuah kawat tembaga diproduksi. Hal baru yang saya maksud sebenarnya tidak tertuju ke isi acara tersebut, tapi adalah ketika istri saya bercerita tentang aktivitas PT. Smelting di gresik, dimana mereka melakukan proses refinery tembaga. Dijelaskan bahwa Smelting dalam melakukan proses refinery, menggunakan satu proses dimana patent atas proses tersebut, dimiliki oleh Mitsubishi. Di dunia metalurgi, proses tersebut dikenal dengan nama “Mitsubishi Process”.

Sedikit mengingatkan, mungkin anda lebih mengarahkan kata Mitsubishi ke merk kendaraan, tapi sebenarnya, aktivitas mereka diawali dengan mendirikan pabrik pesawat dan kemudian kapal laut.

Hal yang jauh lebih menarik lagi adalah, sisa pemurnian dari hasil Mitsubishi process tersebut, menjadi milik perusahaan mitsubishi, dimana sisa pemurnian dari tembaga, berupa Emas.

Apa yang didapat ketika Mitsubishi menggunakan prinsip totalitas dalam setiap aktivitas bisnisnya ?

Di acara tersebut, disebutkan bahwa, tembaga yang masuk ke proses pemurnian, sebenarnya paling tidak memiliki kadar 99,99%, kapasitas PT. Smelting per tahun adalah 250 ribu ton tembaga, dimana, 0,01 %-nya, atau berarti dalam setahun, penerimaan dari ”sampah” proses pemurnian tembaga, adalah berupa 25 ton emas/tahun !

Gambaran cerita Mitsubishi tersebut seharusnya memberikan kita pesan yang sangat kuat, bahwa seluas apapun range product yang kita ingin libatkan dalam agenda ekspansi usaha kita, jelas butuh totalitas. Totalitas dalam belajar hal baru, totalitas untuk bekerja, totalitas untuk berinovasi, totalitas dalam membuat perencanaan, dll. Dan jelas, Mitsubishi tidak setengah-setengah ketika memutuskan untuk melakukan ekspansi usahanya.

“Bekerjalah untuk duniamu seakan – akan kamu hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan – akan kamu mati esok”. (Hadits Riwayat Turmudzi)

Wallahu A’lam

Minggu ini niatan kembali menjadi blogger mulai direalisasikan, diawali dengan kembali berkunjung ke blog-blog favorit.

Walaupun memang belum banyak berpetualang di dunia blog, tp dari beberapa blog favorit, blog mas Fauzi dan milik dosen saya, Pak Ral, yang paling saya suka. Walaupun sama-sama masuk kategori “most favorite”, tp jangan dikira dua blog tersebut punya banyak kesamaan. Well, yang jelas, mereka berdua, saya nilai punya satu hal yang relatif sama; menggunakan bahasa-bahasa yang EKSPRESIF, atau dengan kata lain (masih penilaian saya lho..), tulisan mereka berdua tuh hidup, jadi kalau membaca blog mereka, layaknya lagi ngobrol sama orang yang penuh bahan obrolan, inspiring, dan ngasih banyak ilmu-ilmu tambahan.

Bedanya, karakter mas Fauzi lebih terstruktur dalam content blog dan kategori penulisan..(eh..maaf nih Pak Ral, jangan anggap ini penghinaan utk tulisan Bapak yah..). Terus, beliau tuh sering banget ngutip sesuatu dari buku, tapi gaya penyampaiannya itu simple, alias mudah dicerna, dan bikin perasaan tuh bener-bener bersyukur..dapet banyak ilmu, tanpa harus baca apalagi beli buku…: )

Kalau sang “blogger tua”, begitu Pak Ral sering menyebut dirinya, bener-bener memfungsikan blog jadi wadah penuang ide-ide, gagasan, curhat, perasaan, pokoke campur aduk…dan itu menjadikan saya yang membaca blog Pak Ral, menjadi lebih dekat, dan akhirnya, nggak jarang banyak inspirasi yang muncul setelah baca blog beliau.

Well, saya mengapresiasi blog sebagai penemuan hebat abad ini, bener-bener sudah membuka pagar-pagar publisitas dan pencurahan ide, gagasan, wacana, perspektif atau sejenisnya. Memang pada akhirnya akan ada, atau bahkan sudah ada, kekhawatiran tentang kemungkinan eksistensi blog, bila digunakan untuk sesuatu hal yang menentang nilai-nilai kebaikan yang telah eksis di masyarakat, dan cenderung sulit untuk dipertanggung jawabkan, akan mengancam norma dan sendi-sendi kehidupan, tapi bukankah bisa diambil sudut pandang sebaliknya, bahwa dengan blog, tidak ada satu bentuk media yang mendominasi, tapi di atas semua itu, blog memang telah membawa satu kebiasaan baru, yang salah satu “konsekuensi” lain yang mungkin timbul adalah memberikan nuansa baru untuk mencerdaskan masyarakat.

Bagi beberapa orang yang pernah melakukan trip ke luar negeri, utamanya ke negara-negara maju, pasti tidak menolak, bahwa pengalaman tersebut, benar-benar membawa wawasan baru. Tapi nuansa tersebut, juga dapat digantikan dengan membaca blog, dimana yang jelas, it is very affordable cost.

Paling engga kan bisa numpang internetan di kantor…hehe…