Setelah kusadari, ternyata baru 2 bulan aku berada di Fukuoka, sebuah kota yang cukup besar di kepulauan Kyushu di Jepang. Ya, baru 2 bulan, tapi rasanya sudah cukup bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang penyebab majunya Jepang yang selama ini memakan kapasitas otakku, disimpan dengan rapi, walaupun kadang ingin segera saja kuhapus karena sempat kukira tak kan terlalu penting mendapatkan jawabannya. Mengapa mereka bisa maju? Mengapa mereka bisa menang? Apa sih kurangnya negara kita, atau bahkan sampai pada pertanyaan ” Dimana keadilan Tuhan sebenarnya? Astaghfirullah….pertanyaan-pertanyaan yang bisa menjerumuskan pada kefasikan.
Hari ini aku akan menghadap associate professor, eh, lebih tepatnya calon deh, soalnya kan belum resmi masuk jadi kenkyusei. Ya, walaupun kemarin, profesor dan associate-nya sudah menerimaku menjadi peneliti di laboratoriumnya, katanya prosedur untuk penerimaan komunitas baru di lab. harus dibawa lagi ke rapat departemen. Manut ae…lah…
Setelah mencek barang bawaan untuk dibawa, dokumen-dokumen yang diminta sensei kemarin, siap-siap mandi. Wuihh..belum berani..pake air biasa, karena sudah menjelang fuyu, angin-nya mulai terasa dingin. Daripada bersin-bersin di depan sang associate, mendingan pake air panas, wah…nang rene ki, ra sah nggodok banyu nggo adus.., kare’ mencet.
Eh, waktu masih sejam nih, udah mandi, masak yang mudah aja lah, soseji goreng, he..he..Kayaknya masih bisa nelpon Bapak, ngucapain selamat ulang tahun, abis, semalam ga nyambung-nyambung, mulai frustasi pake kartu telpon internasional yang murah. Tapi juga masih mikir untuk hijrah ke “kartu mendingan”.
Tuuutt……tuuuutt…….tuuut….halo…, Alhamdulillah nyambung…”Pak, Assalamu`alaikum. Selamat ulang tahun yah…!” Langsung aja nyerocos, udah kangen juga..sih..”Halo..Halo…!!”, weh lah dalah…masih ga kedengeran juga di seberang, terpaksa keluar ruangan, “Halo..oh..ya sudah mas, kedengeran-kedengeran…!” ahh syukurlah bisa melanjutkan obrolan kerinduan dengan keluarga di Solo, walaupun ternyata ibu sedang ada di Jakarta, sedang kontrol kesehatannya. Ato de haha ni denwa suru.
Bersepeda ke tempat tujuan, hal yang biasa dilakukan orang Jepang, setidaknya penduduk Fukuoka yang ku tau, ga terkecuali, bapak-bapak ber-jas, yang di negara kita justru supaya tidak hilang gelar eksmudnya, mikir beberapa kali untuk naik kendaraan umum, angkot, apalagi sepeda pancal, gengsi lah…Kalau disini mah, ga ada gengsi yang ada, genki
Sampai jam 10 kurang 10, teringat janji ketemu beliau jam 10 tepat, dan teringat lagi pengalaman sebelumnya, ketemu Professor, harus sesuai janji waktu, tidak lebih, tidak kurang. Ya sudah, terpaksa menyusuri jalan kampus, menunggu beberapa menit lagi, biar sampai ke ruangan beliau, ju-ji asa chodo desu.
“Good morning sir…!“, masih menggunakan bahasa Inggris, ntar ajah, begitu dah masuk kelas nihongo, baru praktekin dikit-dikit. Wah, kayaknya sudah dari tadi nih orang, kayaknya masih pagi banget deh, orang kampus aja masih sepi, tapi ini si sensei, sudah nongkrong di depan komputernya.
Setelah mengeluarkan bahan-bahan yang diminta, berikut bumbu-bumbu ngobrol antar dua insan yang saling terbatas bahasa Inggrisnya, terutama pronounciation-nya. Beliau menjanjikan akan memberitahukan keputusan pertemuan departemen, besok, “In tomorrow, evening..!”, katanya begitu. Ramah sekali…subhanallah.
Orang-orang disini memang luar biasa ramahnya, lebih nJawani mungkin. Setiap momen tuh ada aisatsu-nya, alias salam tertentu berdasarkan kondisi tertentu.
Jadi ingat cerita mbak Fitri, kakak asuhku disini, kalau pergi ke Suupa bertepatan dengan waktu mereka baru buka, maka akan disambut dengan pegawai-pegawai mereka yang bediri berjejer di awal pintu masuk, sambil nunduk bareng meneriakkan, IRRASHAIMASE..!!! Ya…teriak….Sampai ga jarang juga kaget sewaktu belanja sayur atau barang kebutuhan harian lain, karena sudah biasa kata itu diucapkan lantang oleh si pegawai penjaga toko, semangat banget, walaupun orangnya dah tua, lebih tua dari Bapakku yang baru saja pensiun. Di sore menjelang malam-pun, suasana di toko itu masih sama, ojii san yang tadi pagi telah membuatku sport jantung, kembali mengagetkanku…seharusnya waktu menjelang pulang gini adalah waktu dimana sang pak tua berada dalam kondisi capek. Tapi rasa kagetku segera berubah menjadi perasaan kagum dan malu ngeliat raut muka senyum penuh semangat si bapak tua.
Aku biasa belanja sayur di suupa yang ada di belakang rumahku di Tanotsu, soalnya yang paling deket dari rumah ya itu aja, terus juga harganya ga terlalu mahal, sering juga nyari ikan di situ, bukan mancing maksudnya, tapi beli ikan untuk lauk. Ikan di Jepang ini berlimpah, Iro-iro sakana ga arimasu yo…Biasa pergi kesini sama temen kosku, si Amril, soalnya kan bisa nebeng pake mobil, he..he. Tapi suka juga belanja sendiri nggoes sepeda. Terutama kalau persediaan di kulkas sudah menipis. Pergi kemana-mana di sini, emang ga ada kekhawatiran lah.
Seperti orang-orang yang kerja di suupa. Orang-orang di jalan juga ga kalah ramahnya. Wah, ga perlu jidad mengkerut lah, kalau nyetir di sini. Ngasih jalan ke orang lain, atau bahkan menunduk dari dalam mobil sebagai tanda salam, hormat, terima kasih atau minta maaf, apabila melakukan hal yang dianggap menjadi suatu kesalahan, misalnya mengambil lajur yang salah. Suatu pemandangan yang aneh menurutku, karena kita sudah terbiasa dengan gaharnya supir angkot di bekasi, atau raksasa-raksasa bis di dekat terminal senen. Sering ketawa cekikikan aku ngeliat situasi jalan di sini, sampe Amril sering nanya, “Kenapa Dis?”.
Ramah, senyuman, sapaan. Ah..bukankah kita sudah mengenalnya dari lahir. Tangisan kita, dibalas dengan senyuman, tertawa, dan isak haru. Keramahan sudah menyapa kita sejak pertama masuk dalam alam dunia ini. Tidak hanya orang tua, kakek, nenek, ncang, ncing, bahkan tetangga sebelah rumah pun sudah mengenalkan arti sebuah senyuman.
Senyum di dalam Islam telah diangkat bukan hanya menjadi penghias muka, dan bentuk visualiasi dari emosi. Islam telah menganggapnya menjadi sebuah amalan kebaikan. Sebuah pemaknaan yang indah telah diberikan oleh Islam, agama kedamaian. Senyuman, salam, perkataan yang baik, etika berbicara yang baik kepada orang tua, dapat ditemui dalam Islam sebagai suatu hal yang diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Sabda Rasulullah SAW: “Lindung diri kalian dari api neraka, bahkan dengan mensedekahkan setengah dari kurma, dan orang yang bahkan tidak dapat melakukan itu, setidaknya berbicara secara sopan santun,” seperti diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.
Luar biasa kekuatan keramahan. Berkali-kali, keramahan telah mengantarkan orang-orang di lingkungan Rasulullah SAW, untuk bersedia bersaksi bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang patut Disembah, dan Muhammad adalah satu-satunya Nabi utusannya yang terakhir, membawa kabar baik bagi seluruh umat dunia.
Bukan suatu rekayasa sejarah, bahwa Umar bin Khatab, seorang pemuda diantara usia tiga puluh dan tiga puluh lima, bertubuh besar, yang maksudnya lebih besar dari tubuh besar rata-rata orang timur tengah apalagi disbanding dengan postur orang asia, gampang naik pitam, dan suka minum-minuman keras, dapat tertunduk malu dihadapan lantunan ayat suci Al-Qur`an yang mulia, bahkan beliau juga dikenal sebagai sahabat yang memiliki telaga air mata karena seringnya beliau menangis. Kecintaannya terhadap sesama manusia, kelembutan hati dan keramahannya terhadap rakyat yang dipimpinnya, dan bahkan kemanjaan Umar terhadap istrinya, adalah manifestasi hakiki, dari ketundukan Umar terhadap Pencipta, Allah Azza Wa Jalla.
Senyum, ramah, salam, adalah juga bentuk kecintaan kita terhadap sesama. Bapak tua di suupa yang saya ceritakan tadi, dapat diyakini, beliau pun mengucapkan salam kepada pembeli bukan karena hal itu bagian dari job desc mereka, atau karena dilihat atasan mereka, bahkan si pak tua saya yakin bukan pemilik toko. Tapi karena mereka sadar, arti keramahan, kekuatan senyuman yang tulus, akan melekat pada diri calon-calon pembeli. Les Giblin pernah mengatakan, bahwa pada dasarnya, manusia itu tidak hanya lapar secara fisik, lapar yang membutuhkan makanan untuk menghilangkannya. Tapi manusia itu mempunyai kelaparan secara mental, lapar bila tidak dihargai, sekalipun hanya sapaan, dan lapar bila tidak didengar, sekalipun hanya jawaban salam.
Jangan segan menjadikan diri kita orang yang ramah, silahkan mengobral senyuman, sebarkan salam, dan rasakan manfaatnya.
Wallahu A`lam bish Shawab.
irrashaimase : selamat datang
kenkyusei : mahasiswa peneliti
Manut ae…lah… : ikut saja deh…
sensei : guru/dosen/profesor, bahkan dokter juga dipanggil dengan sebutan sensei
wah…nang rene ki, ra sah nggodok banyu nggo adus.., kare’ mencet : “wah disini ini, ga perlu masak air untuk mandi..tinggal mencet”
soseji : sosis
sepeda pancal : sepeda
genki : sehat
ju-ji asa chodo desu : tepat jam 10
nihongo : bahasa Jepang
pronounciation : pengucapan
Suupa : supermarket
ojii san : kakek
Tanotsu : nama sebuah wilayah setingkat kecamatan di Jepang
Iro-iro sakana ga arimasu yo… : “macam-makan ikan ada disini lho”
job desc : sing.Job Description, deskripsi/tanggung jawab pekerjaan