February 2008


“Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, ialah Dia (yang) menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung merasa tenteram kepadanya, dan Dian menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kamu yang berpikir.” (Ar-Ruum:21)

Ayat yang dapat kita identifikasi sebagai perkataan Allah terhadap fenomena rasa cinta yang muncul dalam diri sepasang insan ciptaanNya. Cinta yang bukan cinta monyet apalagi dihiasi istilah “gombal”, tapi cinta sejati karena selalu disandarkan bahwa rasa kasih sayang dan ketenteraman yang ditimbulkannya adalah anugerah dariNya.

Baginda tercinta Rasulullah sendiri dapat kita saksikan sebagai seseorang yang penuh cinta terhadap sesama. Beliau bukan menempatkan cinta sebagai perasaan yang terpisah dengan cinta terhadap Sang Rahman, tapi justru menimbulkan dari dirinya cinta yang semakin mendekatkan diri padaNya. Maka, tak salah, ketika ia memanggil Aisyah R.A dengan sebutan Humaira, maka hal tersebut tidak menjauhkan dirinya dari optimal dalam berdakwah. Panggilan sayangnya seakan alat pengisi kembali ruhiahnya yang dipenuhi dengan kelelahan menghadapi Quraisy yang angkuh. Pandangan mesranya menjadi sarana me-recharge semangat berdakwah.

Cinta, menjadi fenomena yang disadari Allah sebagai bagian dari kehidupan salah satu ciptaanNya bernama manusia. Dan secara sempurna, Allah telah mengatur bagaimana manusia menempatkan cinta kepada pasangan dari jenis manusia sendiri. Sistem sempurna tersebut bernama pernikahan. Sebuah institusi yang akrab disebut sebagai mitsaqan ghaliza, ikatan yang kokoh. Kokoh, karena hanya Allah yang berada di belakang niatnya. Bahkan dalam film-film di televisi, kita sering menyaksikan dalam kehidupan orang-orang barat, ketika melangsungkan pernikahan, mereka menyaksikan pendeta yang memberkati pernikahan mereka berkata, “Ikatan ini, adalah dipertemukan oleh Tuhan, maka tidak akan dapat dicerai-beraikan oleh manusia”, sebuah kesadaran bahwa lembaga pernikahan adalah sebuah lembaga Illahiah. Di Amerika, terjadi sebuah fenomena yang ditulis oleh Hoffman dalam Developmental Psychology Today, yaitu bahwa kini, banyak pasangan muda yang menemukan kebahagiaan mereka dalam perkawinan karena suatu hal, komitmen, yaitu komitmen religius, suatu hal yang justru dijauhi banyak pasangan dengan gaya “pacaran” mereka. Dan pada tahun 1982, sebagian gereja di Amerika mempopulerkan pernikahan dini, tidak tanggung-tanggung, pasangan yang telah menginjak 18 tahun didorong untuk segera menikah.

Namun dapat juga menjadi kesadaran sesaat, karena tidak jarang juga kita dengar, perceraian menjadi hal yang mudah diputuskan, anehnya justru setelah lama berpikir dan sebelum menikah memaksakan kepada Sang Pemberi Keputusan, “Ini jodohku..Tuhan, ini jodohku!!”

Sistematis, sekaligus indah, tahapan yang harus dilalui seorang muslim untuk menemukan pasangan dari jenisnya sendiri. Didahului dengan Istikharah, sebuah komunikasi Hotline ke Allah yang menggambarkan kepasrahan seseorang terhadap keputusanNya, lihat saja bagaimana isi do’anya, “Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Tahu sedangkan aku tidak, Engkaulah Yang Maha Berkuasa, sedangkan aku makhluk yang lemah, jika memang, fulana binti fulan baik untukku, keluargaku, dan agamaku, maka takdirkanlah ia untukku, mudahkanlah aku dekat padanya, dan berkahilah ia. Dan jika ia tidak baik untukku, keluargaku, dan agamaku, jauhkanlah ia dariku, dan jauhkanlah aku darinya, dan sesungguhnya Engkau Yang Maha Mengetahui apa-apa yang terbaik untukku.”

Kepasrahan berulang kali dibedakan dengan menyerah dan tidak melakukan apa-apa. Kepasrahan adalah sikap terbaik manusia untuk menemukan Qadr-nya, yang jelas ia tidak akan mengetahuinya. Simaklah perkataan Tom Cruise, sang samurai terakhir ketika ditanya apakah manusia dapat merubah takdirnya, “Manusia diberikan akal untuk berusaha mengungkapkan takdirnya.”

Jika ingin mendapatkan wanita sholehah, maka jadilah lelaki sholeh, dan sebaliknya, bukankah Qur’an sendiri yang mengatakan, “Wanita-wanita sholehah adalah hanya untuk lelaki sholeh”.

Maka beruntunglah lelaki yang bernama sholeh..he..he..

jangan khawatir…isi suratnya bukan pemecatan saya dari bangku kuliah kok…lha wong sudah purnamahasiswa alias alumni..

surat (baca : e-mail) ini sebenernya sempat luput dari pengamatan saya…berhubung kemarin sama sekali ga ngececk e-mail ditambah gara2 ngikut milis bejibun sampe surat penting kayak gini ga keliatan…untungnya ngeliat blog prof.Ral, n disitulah saya nemukan pak dekan ternyata sudah memposting sesuatu untuk blog-nya…

*****

yudis makkkkaaashiii…banget..
saya besok baru dilantik, Insya Allah besok malam saya akan mulai
ngirim ngirim utk ditempelin ke blog-nya
dis nama blognya jangan Deansugi..ah…gimana gitu
ada kesan arogan….ganti Bang Sugi aja deh…terlanjur
udah terkenal itu nama seeeh

wass.wr.wb

bangsugi

*****

Yup..singkat..tp jelas…

Prof. Bambang Sugi ini salah satu dosen saya waktu di padepokan “wong yellow jacket” dulu…walaupun sebenernya ga pernah diajarkan langsung oleh beliau, tapi udah banyak deh testimony OK tentang cara ngajar beliau…ditambah kekhasan beliau ketika berinteraksi dengan siswa ajarnya…wah gaul gitu loh…

singkat cerita Pak Bambang Sugi (skg lebih dikenal dengan Prof. Bangsugi) terpilih jadi dekan….dan seketika itu juga saya usulin..

“Buat Blog dong…biar kebijakan2nya lebih komunikatif…n banyak yang bisa ngasih masukan langsung ke pak Dekan..”

ternyata usulannya direspon….n dengan sukacita…saya bantu pembuatan blog tersebut

*****

Hari ini saya baru baca surat dari Pak dekan….isinya ada 2, tentang sebuah tulisan yang ingin dipostingkan beliau ke Blognya, dan sebuah permintaan untuk mengganti nama blognya…

Begitu ngebaca surat itu…yang ada hanya haru dan kagum…

kutipan e-mail di atas secara eksplisit menggambarkan sosok beliau yang rendah hati dan menjaga agar dihindarkan dari sifat arogan..

postingan-nya pun tak lebih dari potongan e-mail….tapi isinya adalah dialog beliau dengan seorang ustadz….tentang bagaimana Islam memposisikan seorang pemimpin dan jajaran “menteri-menteri”nya…

Ya…semoga Allah terus melindungimu Prof…

*****

Cerita tentang surat dari pak dekan di atas sebenarnya adalah usaha untuk menyebarkan enegi positif untuk kepemimpinan publik di Indonesia yang kondisi kekiniannya makin ga punya bentuk.

Yang jelas, 6 presiden RI, representasi kepemimpinan publik paling besar di negeri ini, masing-masing membawa karakter sendiri-sendiri.

Berkaca pada sejarah bahwa ke-5 presiden lalu “lengser” dengan penuh nuansa ketidakpuasan dari rakyatnya, saya jadi ingat penjelasan Bapak Anhar Gonggong, sejarawan terkenal yang pernah memberikan kuliah umum di kampus saya dulu, bahwa sepanjang sejarah Indonesia, sejak belum mengenal yang namanya nusantara, raja-raja juga lengser dengan penuh intrik, baik dari rakyat, maupun lawan politiknya. Jangan-jangan, Indonesia memang benar-benar akan memerlukan waktu lama lagi untuk dapat menemukan bentuk kepemimpinan khas Indonesia, yang akan benar-benar membawa masyarakatnya ke bentuk kesejahteraan yang hakiki.

Membahas kepemimpinan publik bisa jadi adalah sebuah apatisme bagi tidak sedikit orang, tapi kenyataan lah yang berbicara, di mana kepemimpinan adalah poin penting, malah lebih lagi adalah faktor utama bagi sebuah negara untuk dapat mencapai wujud Baldatun Toyyibatun wa Rabbun Ghafur

Konon katanya akan ada Ratu Adil…????

Ah…ramalan….sepertinya juga hanya manifestasi kekecewaan…..

Sebenarnya, ketika log in masuk di wordpress ini, maunya nulis sesuatu 2 topik yang udah pengen diceritakan. Tapi begitu masuk ke TAB “post”, muncul pesan pemberitahuan bahwa masih ada draft berjudul persis seperti judul tulisan ini…hehe..ternyata masih punya utang.

Sekarang sedang giat-giatnya mencari ilmu tambahan tentang HRD, mengingat semakin terasa sekali kepentingan untuk menciptakan koordinasi yang baik dalam tim saya di kantor, dimana anggota tim semakin bertambah, semakin beragam dan pastinya semakin bermacam-macam pula masalahnya.

Satu situs yang jadi langganan saya menimba ilmu-ilmu seputar HRD adalah portalHR. Dalam beberapa artikelnya saya menemukan ternyata Ilmu HRD (human resource development) juga mengalami perkembangan, ketika pastinya HR/SDM hanya dipandang sebagai alat mencapai tujuan usaha, maka, pendekatan kompensasi saja sudah cukup menjadi pola hubungan pemilik usaha dengan SDM di perusahaan tersebut. Pekerjaan beres, gaji dibayar, pekerjaan belepotan, gaji dipotong…selesai, SDM hampir seperti benda mati yang hanya diperlakukan tindakan-tindakan satu arah.

Kemudian trend HRD berkembang ke prinsip utama bahwa karyawan adalah mitra. Kata-kata mitra dapat dengan mudah kita tangkap ada nilai kesejajaran di dalamnya. Komunikasi dua arah juga sudah mulai dipandang perlu dalam pandangan baru ini, dalam ilmu cabang manajemen lain semisal performance management, sudah diletakkan “feed back” sudah mulai diperhitungkan menjadi poin penting dalam berhasilnya penerapan manajemen kinerja. Training dan coaching adalah istilah-istilah yang juga berkaitan dengan pandangan ini.

Yang terakhir, yang saya baca dalam sebuah artikel di situs portalHR tersebut, SDM diletakkan kembali pada fungsi dasarnya sebagai seorang human being, dimana kepentingannya bukan hanya di-treatment, tapi juga lebih di-wong-ke. Disini keterlibatan pemahaman aspek psikologis manusia lebih ditekankan. Karyawan bagaimanapun adalah seorang manusia yang dapat merasa bosan, sedih, tersinggung, butuh perhatian, sekaligus butuh dihargai, butuh direspon cepat dan kebutuhan-kebutuhan psikologis dasar lainnya.

Bagaimana anda terhadap bawahan/karyawan anda ?

PS.

Lucu juga ketika iseng-iseng browsing ternyata nemu artikel dengan isi pembahasan yang hampir serupa..tapi semoga dapat melihat sudut pandang yang berbeda dari tulisan saya di atas