“Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, ialah Dia (yang) menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung merasa tenteram kepadanya, dan Dian menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kamu yang berpikir.” (Ar-Ruum:21)
Ayat yang dapat kita identifikasi sebagai perkataan Allah terhadap fenomena rasa cinta yang muncul dalam diri sepasang insan ciptaanNya. Cinta yang bukan cinta monyet apalagi dihiasi istilah “gombal”, tapi cinta sejati karena selalu disandarkan bahwa rasa kasih sayang dan ketenteraman yang ditimbulkannya adalah anugerah dariNya.
Baginda tercinta Rasulullah sendiri dapat kita saksikan sebagai seseorang yang penuh cinta terhadap sesama. Beliau bukan menempatkan cinta sebagai perasaan yang terpisah dengan cinta terhadap Sang Rahman, tapi justru menimbulkan dari dirinya cinta yang semakin mendekatkan diri padaNya. Maka, tak salah, ketika ia memanggil Aisyah R.A dengan sebutan Humaira, maka hal tersebut tidak menjauhkan dirinya dari optimal dalam berdakwah. Panggilan sayangnya seakan alat pengisi kembali ruhiahnya yang dipenuhi dengan kelelahan menghadapi Quraisy yang angkuh. Pandangan mesranya menjadi sarana me-recharge semangat berdakwah.
Cinta, menjadi fenomena yang disadari Allah sebagai bagian dari kehidupan salah satu ciptaanNya bernama manusia. Dan secara sempurna, Allah telah mengatur bagaimana manusia menempatkan cinta kepada pasangan dari jenis manusia sendiri. Sistem sempurna tersebut bernama pernikahan. Sebuah institusi yang akrab disebut sebagai mitsaqan ghaliza, ikatan yang kokoh. Kokoh, karena hanya Allah yang berada di belakang niatnya. Bahkan dalam film-film di televisi, kita sering menyaksikan dalam kehidupan orang-orang barat, ketika melangsungkan pernikahan, mereka menyaksikan pendeta yang memberkati pernikahan mereka berkata, “Ikatan ini, adalah dipertemukan oleh Tuhan, maka tidak akan dapat dicerai-beraikan oleh manusia”, sebuah kesadaran bahwa lembaga pernikahan adalah sebuah lembaga Illahiah. Di Amerika, terjadi sebuah fenomena yang ditulis oleh Hoffman dalam Developmental Psychology Today, yaitu bahwa kini, banyak pasangan muda yang menemukan kebahagiaan mereka dalam perkawinan karena suatu hal, komitmen, yaitu komitmen religius, suatu hal yang justru dijauhi banyak pasangan dengan gaya “pacaran” mereka. Dan pada tahun 1982, sebagian gereja di Amerika mempopulerkan pernikahan dini, tidak tanggung-tanggung, pasangan yang telah menginjak 18 tahun didorong untuk segera menikah.
Namun dapat juga menjadi kesadaran sesaat, karena tidak jarang juga kita dengar, perceraian menjadi hal yang mudah diputuskan, anehnya justru setelah lama berpikir dan sebelum menikah memaksakan kepada Sang Pemberi Keputusan, “Ini jodohku..Tuhan, ini jodohku!!”
Sistematis, sekaligus indah, tahapan yang harus dilalui seorang muslim untuk menemukan pasangan dari jenisnya sendiri. Didahului dengan Istikharah, sebuah komunikasi Hotline ke Allah yang menggambarkan kepasrahan seseorang terhadap keputusanNya, lihat saja bagaimana isi do’anya, “Ya Allah, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Tahu sedangkan aku tidak, Engkaulah Yang Maha Berkuasa, sedangkan aku makhluk yang lemah, jika memang, fulana binti fulan baik untukku, keluargaku, dan agamaku, maka takdirkanlah ia untukku, mudahkanlah aku dekat padanya, dan berkahilah ia. Dan jika ia tidak baik untukku, keluargaku, dan agamaku, jauhkanlah ia dariku, dan jauhkanlah aku darinya, dan sesungguhnya Engkau Yang Maha Mengetahui apa-apa yang terbaik untukku.”
Kepasrahan berulang kali dibedakan dengan menyerah dan tidak melakukan apa-apa. Kepasrahan adalah sikap terbaik manusia untuk menemukan Qadr-nya, yang jelas ia tidak akan mengetahuinya. Simaklah perkataan Tom Cruise, sang samurai terakhir ketika ditanya apakah manusia dapat merubah takdirnya, “Manusia diberikan akal untuk berusaha mengungkapkan takdirnya.”
Jika ingin mendapatkan wanita sholehah, maka jadilah lelaki sholeh, dan sebaliknya, bukankah Qur’an sendiri yang mengatakan, “Wanita-wanita sholehah adalah hanya untuk lelaki sholeh”.
Maka beruntunglah lelaki yang bernama sholeh..he..he..




